
Fikri Haikal saat menerima penghargaan sebagai Duta Komunikasi GenBI Jawa Tengah (dok. pribadi)
SEMARANG – Fikri Haikal Aryansyach, mahasiswa angkatan 2023 program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang sukses raih beasiswa Bank Indonesia dan sedang merintis usaha jasa digital agensi.
Fikri, seorang pemuda asal Ponorogo, Jawa Timur ini berasal dari keluarga broken home dan pra-sejahtera.
Terpaksa menghadapi kenyataan pahit sebagai anak broken home sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, serta menjadi sorotan setelah diketahui mogok sekolah dan mengisolasi diri dari lingkungan sekitar selama kurun waktu satu tahun penuh. Pergolakan batin akibat perpisahan orang tuanya di usia yang rentan menjadi pemicu utama Fikri menarik diri dari interaksi sosial dan pendidikan formal.
“Selama saya hidup, saya tidak pernah membayangkan hal ini terjadi, dan tentu tidak ada yang menginginkan untuk menjadi anak yang kurang kasih sayangnya,” ujar Fikri Haikal saat wawancara pada 13 November 2025.
Setelah berhasil melewati masa sulitnya, Fikri membuktikan tekadnya untuk bangkit sepenuhnya dengan kembali melanjutkan semangat pendidikannya. Ia berhasil menembus gerbang perkuliahan di UIN Walisongo Semarang, meski dengan keterbatasan finansial.
Demi membiayai kuliahnya, Fikri mengambil berbagai pekerjaan paruh waktu, mulai dari menjadi pengemudi ojek online, membuka jasa titip makanan, hingga berjualan tahu.
Perjalanan akademis dan kariernya tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Pada saat Fikri menginjak semester 3, ia mengalami penurunan nilai IPK yang sebelumnya hampir sempurna menjadi hanya 3,6 saja. Realita tersebut memaksanya untuk mengevaluasi prioritas, hingga kemudian dia memutuskan untuk rehat sejenak dari pekerjaannya demi memulihkan fokus. Walaupun begitu, semangatnya tidak lantas padam, dia tak henti-hentinya berusaha mencari peluang baru dengan mencoba pekerjaan yang lebih fleksibel, seperti menjadi desainer grafis lepas yang bisa dikerjakan di mana saja.
Ketekunan dalam mengasah kreativitas tersebut akhirnya membuahkan hasil manis, di mana ia berhasil merintis usahanya sendiri yang ia beri nama Sobat Studio, sebuah manifestasi dari kerja keras dan resiliensi yang ia bangun di masa sulit.
Fikri juga tak henti berupaya mencari beasiswa. Tercatat, ia sempat mendaftar dan ditolak oleh sepuluh program beasiswa berbeda. Namun, semangatnya tak pernah padam. Pada pendaftaran yang kesebelas, Fikri akhirnya berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa Bank Indonesia, membuktikan bahwa ketekunan dan kegigihan adalah kunci untuk mengubah nasib.
Semangat dan keberhasilan Fikri telah menginspirasi banyak orang, membawa harapan bahwa status sebagai anak broken home atau prasejahtera bukanlah akhir. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa dengan kegigihan dan ketekunan, siapapun bisa bangkit dari keterpurukan dan meraih prestasi yang membanggakan.(*)
Penulis: Rina Supriani, Mahasiswi KPI angkatan 2024
(Karya merupakan output mata kuliah Jurnalistik)