0 Comments

Penampilan tari-tarian dan pentunjukkan mudik angklung oleh murid Saung Angklung Udjo pada Kamis (09/04/2026). Dok. Humas KPI.

BANDUNG – Usai melaksanakan study banding ke berbagai media seperti Metro TV, Lembaga Sensor Film (LSF), dan Akurat.com di Jakarta, mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) melanjutkan rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Bandung dengan mengunjungi Saung Angklung Udjo pada Kamis (09/04/2025).

Kunjungan ini tidak sekadar menjadi agenda refreshing, tetapi juga sarana pembelajaran bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya. Di lokasi ini, mahasiswa diajak mengenal secara langsung kekayaan seni dan budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga kini.

Setibanya di Saung Angklung Udjo, peserta disambut hangat dengan kalung angklung sebagai simbol penerimaan. Rangkaian acara kemudian dimulai dengan berbagai pertunjukan seni, seperti wayang golek “Rama Sinta”, arak-arakan, tari topeng, hingga penampilan musik angklung yang memukau.

Melalui pertunjukan tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak memahami makna budaya di balik setiap penampilan. Mereka diperkenalkan pada keberagaman seni dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, yang menunjukkan betapa kayanya identitas budaya Indonesia.

Pemandu acara, Erika, menjelaskan bahwa Saung Angklung Udjo didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena bersama Uum Sumiati, dan kini memiliki kurang lebih 600 murid dari berbagai usia, bahkan mulai dari dua tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai sejak dini dan terus berkembang hingga dewasa.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga dilibatkan secara aktif dalam sesi bermain angklung bersama. Setiap peserta memegang satu angklung dengan nada berbeda dan diarahkan untuk memainkan lagu secara bersama. Kegiatan ini melatih kekompakan, komunikasi nonverbal, serta koordinasi.

Selain memainkan lagu nasional seperti “Indonesia Raya”, mahasiswa juga diajak membawakan lagu populer seperti “Lagu dari Dewa 19” “Falling in Love” dan “Laskar Pelangi”.

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa alat musik tradisional seperti angklung mampu beradaptasi dengan berbagai genre, tanpa kehilangan nilai budayanya.

Interaksi yang terbangun selama kegiatan turut memberikan pembelajaran sosial yang bermakna. Mahasiswa menyaksikan bagaimana anak-anak hingga orang dewasa membaur dalam satu ruang budaya, bernyanyi, menari, dan berkolaborasi tanpa adanya sekat.

Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa generasi muda tidak harus sepenuhnya bergantung pada gadget dalam mencari hiburan. Melalui interaksi langsung dan keterlibatan dalam seni budaya, ternyata dapat tercipta pengalaman yang lebih bermakna, menyenangkan, serta memperkuat rasa cinta terhadap tanah air.

Dengan pengalaman ini, mahasiswa KPI tidak hanya memperoleh wawasan akademis, tetapi juga kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. (*).

Tim Humas KPI

Related Posts